Page 11 - INFOKES
P. 11
[Type text]
Intervensi Kesehatan
MEDIA
INFORMASI KESEHATAN
Penanggulangan Filariasis dilaksanakan berbasis Tujuan dan sasaran Pemberian Obat Pencegahan
wilayah dengan menerapkan manajemen lingkungan, Secara Massal (POPM) Filariasis
pengendalian vektor, menyembuhkan atau merawat penderita, Tujuan Kegiatan POPM Filariasis adalah
memberikan obat terhadap orang-orang sehat yang terinfeksi terselenggaranya kegiatan POPM Filariasis yang terencana
cacing filaria dan sebagai sumber penularan Filariasis serta dengan baik terhadap seluruh penduduk sasaran di Daerah
pemberian obat pencegahan secara massal. Endemis Filariasis (Kabupaten/ Kota Endemis Filariasis)
Program Penanggulangan Filariasis telah menjangkau dengan cakupan lebih dari 85% jumlah penduduk sasaran
seluruh provinsi di Indonesia. Secara bertahap kabupaten/kota pengobatan dan 65% dari jumlah penduduk total, sehingga
endemis Filariasis akan melaksanakan program dapat menurunkan angka microfilaria rate menjadi <1%,
penanggulangan sehinga semua kabupaten/kota endemis menurunnya kepadatan rata-rata mikrofilaria dan terputusnya
tersebut mencapai eliminasi. Dengan demikian maka Indonesia rantai penularan Filariasis.
juga akan mencapai eliminasi Filariasis, sehingga diharapkan Kegiatan POPM Filariasis ini dilaksanakan terhadap
Filariasis tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat di semua penduduk usia 2 tahun sampai dengan usia 70 tahun
Indonesia pada tahun 2020. di seluruh wilayah Kabupaten/Kota Endemis Filariasis dengan
Pada tahun 2017 terdapat 150 kabupaten/ kota yang memberikan obat DEC dan albendazole secara massal
melaksanakan POPM, dari Jumlah itu, terdapat empat daerah bersamaan. Pemberian obat secara massal bersamaan ini
yang baru melaksanakan POPM, yakni Kabupaten Semarang, dapat mematikan semua mikrofilaria yang ada di dalam
Kabupaten Grobogan, Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten darah setiap penduduk dalam waktu bersamaan, dan
Brebes, Sisnya sebanyak 73 daerah tengah menjalani evauasi mencegah makrofilaria (cacing filaria dewasa) menghasilkan
untuk mendapatkan sertfikat eliminasi filariasis. Untuk mikrofilaria baru, sehingga rantai penularan Filariasis dapat
mendapatkan sertifikat, daerah yang dinyatakan endemik pada diputus. Obat pencegahan Filariasis yang diberikan secara
tahun 2002 harus melewati sejumlah kriteria : massal memerlukan persiapan, pendataan penduduk sasaran
1. Melaksanakan POP selama 5 tahun berturut-turut, dan pemberian informasi kepada masyarakat tentang manfaat
mencakup lebih dari 65 persen populasi dan bagaimana tahapan pelaksanaan kegiatannya.
2. Prevalensi mikrofilaria , 1 % setelh POPM terakhir Kegiatan POPM Filariasis dilaksanakan sekali setahun
3. Daerah harus lulus 3 kali dalam survei penilain penularan. selama minimal lima tahun berturut-turut, kemudian diikuti
Survei ini dilaksanakan setelah lima tahun POPM, serta dengan evaluasi dampak setelah POPM Filariasis dihentikan
akhir tahun ke 2 dan akhir tahun ke 4. dengan menerapkan surveilans ketat pada periode stop
POPM Filariasis.
Gambar Pemberian Obat Pencegahan Filariasis Secara Massal
Pelaksanaan POPM di Jawa Tengah Berdasar hasil survei, terdapat 9 Kabupaten di Jawa
Pada tahun 2002 dilakukan survei di kecamatan Tengah yang dinyatakan sebagai daerah endemis filariasis,
Wiradesa Kabupaten Pekalongan. Hasil survei menunjukan sehingga perlu dilakukan POPM untuk mencapai target
microfilaria rate sebesar 1,4%. Pada tahun 2003 kembali eliminasi filariasis pada tahun 2020.
dilakukan survei di Kecamatan Tirto dan Wonokerto dengan Terdapat 4 kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang
hasil mikrofilaria di Kecamatan Tirto=1,14% dan Kecamatan telah dilakukan survey darah jari (SDJ) tahun 2005 dengan
Wonokerto sebesar 1,23%. Selanjutnya pada tahun 2007 hasil microfilaria rate lebih 1% yaitu Kab Semarang di Bawen,
dilakukan survei endemisitas di Kecamatan Buaran dengan Kab Grobogan di Desa Selo, Blora di Tawangrejo dan Pati di
hasil pemeriksaan laboratorium ditemukan mikrofilaria rate Juwana. Hasil survei dengan mikrofilaria >1% berarti harus
sebesar 3,9% sehingga dari hasil survei tersebut menunjukan dilaksanakan pengobatan massal, tetapi sampai dengan saat
bahwa Kabupaten Pekalongan merupakan kabupaten ini belum pernah dilaksanakan pengobatan massal. Hal ini
endemis filaria. disebabkan kurangnya sosialisasi hasil survei yang perlu
ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah.
INFOKES EDISI 37, DESEMBER 2017

