Page 37 - INFOKES
P. 37
[Type text]
Pojok Infokes MEDIA
INFORMASI KESEHATAN
Hitungan secara ilmiah dari peneliti, biaya tersebut sekitar Dengan diratifikasinya FCTC tersebut, mereka secara
4,5 kali lipat dari cukai yang diterima (soewarta Kosen, 2016), dan otomatis mendukung kesepakatan global yang di dalamnya
diprediksi beban cost treatment yang harus dikeluarkan untuk memuat komitmen antara lain tobacco kills, tobacco causes
pengobatan penyakit akibat asap rokok terus meningkat, seiring addiction, tobacco targets on youth, profitting from death,
meningkatnya cukai yang diterima negara, karena perokok setiap profitting from poor (WHO).
tahunnya juga meningkat. Artinya beban ekonomi kesehatan Artinya negara-negara tersebut telah membuat peraturan
akibat dampak penyakit yang ditimbulkannya melebihi cukai yang yang sangat ketat, mulai dari peraturan untuk produsen rokok,
didapatkan. iklan rokok, penjualan rokok sampai dengan peraturan bagi para
Hitung-hitungan secara sederhana yang merupakan biaya penikmat rokok sehingga mereka tidak bisa dengan leluasa
langsung konsumsi rokok pada tingkat rumah tangga/ individu melakukan aktivitas yang berhubungan dengan perokokan.
sebagai berikut: Oleh karena adanya kesepakatan tersebut, membuat
Asumsi 10 batang/orang/hari atau 300 batang/orang/bulan para raja rokok dunia berbondong-bondong lari ke Bumi
dengan harga per batang Rp.1000~ Rp.2000. Indonesia, karena di negara asalnya, mereka tidak bisa leluasa
Perokok aktif 61,4 juta orang (tahun 2013) berarti lagi. Dikatakan oleh penyair kondang (Taufik Ismail) bahwa
membelanjakan 18,4 trilyun rupiah per bulan atau 220,8 trilyun Indonesia adalah surga luar biasa ramah bagi para perokok dan
rupiah per tahun. surga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di Dunia.
Perokok aktif tahun 2014, meningkat sebanyak kurang lebih 75 Maka sangat wajar apabila mereka dengan gagah berani
juta orang, berarti tinggal mengalikan saja berapa triliun belanja menguasai, mengakuisisi dan mengambil alih produksi rokok
rokoknya. maha besar yang ada di Indonesia.
Dari total perokok aktif tersebut, 60% nya adalah masyarakat Walaupun berbagai kenyataan permasalahan kesehatan
kurang mampu. (Soewarta Kosen, 2013) terkait asap rokok tersebut benar-benar terjadi, tidak
Sebagian dari 60% rakyat miskin tersebut merupakan menyurutkan niat sebagian orang untuk menjadikan industri
rakyat miskin kategori ekstrim yang berpenghasilan kurang lebih 2 rokok sebagai industri unggulan dan dikuatkan pula dengan
(dua) dolar per hari atau sekitar Rp. 25.000–35.000/hari atau tidak diratifikasinya FCTC, bahkan Indonesia adalah satu-
penghasilan rata-rata Rp. 500.000-750.000/bulan. Jelas untuk satunya Negara di Asia yang belum mau menandatangani
makan keluarga sehari-hari saja sudah megap-megap. Dapat kesepakatan global tersebut.
dibayangkan kalau dengan terpaksa mereka tetap harus membeli Alasan-alasan yang selalu dijadikan pertimbangan untuk
rokok karena memang neurotransmiter otaknya sudah ”keracunan tidak diratifikasinya FCTC, sebagai berikut:
nikotin” dan selalu meminta nikotin, sekalipun mereka hanya Katanya penerimaan cukai rokok sangat besar.
mempunyai uang pas-pasan. Lapangan pekerjaan yang kurang, sehingga industri rokok
Pertanyaannya, apakah hal ini merupakan sebuah seolah-olah memberikan semacam jalan keluar untuk
KEINGINAN atau KETERPAKSAAN yang dengan terpaksa harus mengatasi pengangguran.
tetap memenuhi kenikmatan semu otaknya, dengan terus Katanya banyak event-event sosial, olah raga maupun
menghisap rokok. Yang pasti, bahwa rakyat miskin akan tetap budaya yang hanya mampu disponsori oleh industri rokok.
miskin dan sebaliknya produsen rokok akan semakin kaya raya. Katanya Indonesia sebagai penghasil tembakau yang cukup
Maka jangan pernah heran kalau di koran-koran atau besar sebagai sumber daya alam.
diumumkan di TV, ada pengusaha rokok menjadi orang terkaya di Katanya dll...dll...dll....
Indonesia. Ya jelas dong karena yang diproduksi adalah sesuatu Mungkin dengan alasan “katanya” itulah, sebagian
yang menyebabkan kecanduan dan “memaksa” para perokok kelompok ”ngotot” menginginkan supaya industri rokok harus
untuk tetap menjadi perokok seumur hidupnya. tetap menjadi industri unggulan karena mereka menganggap
Kalau sudah begini apakah tidak boleh bila ada orang yang banyak keuntungan yang diperoleh, tanpa berfikir dampak
bilang “ihh jahat banget ya rokok itu, sampai-sampai “memaksa” kesehatan dan tidak disadari juga telah andil bagian dalam
orang miskin yang tidak punya uang, untuk terus mencari cara ”pemiskinan” masyarakat terutama masyarakat kurang mampu.
agar tetap bisa merokok”. Lha memang itulah kenyataan yang Alasan-alasan tersebut merupakan peluang sangat
ada, selalu tidak pernah disadari atau memang sengaja pura-pura strategis dan sangat disenangi oleh para produsen rokok,
tidak menyadari, karena pengaruh nikotin sangatlah kuat sehingga mereka tetap punya ruang dan kesempatan untuk
mengalahkan segalanya. membuat eksis industri rokoknya.
Bagi para pecandu rokok, jangan pernah menganggap Apakah hal ini bisa dikatakan sebagai dilema ataukah
bahwa mereka membeli rokok, akan tetapi lebih tepat kalau ironi, bahwa kalangan industri rokok sediri menyatakan kalau
dikatakan sebagai “penyumbang”, dengan diberi imbalan sesuatu rokok bahaya untuk kesehatan (dibuktikan dengan peringatan
yang menyebabkan ketagihan, sehingga jadilah mereka sebagai bahaya merokok pada bungkus rokok). Juga dikatakan langsung
penyumbang hakiki kepada produsen rokok, sampai ada keajaiban pada waktu ada kegiatan pertemuan antara kelompok
yang memang membuat mereka terpaksa berhenti merokok, masyarakat tertentu dengan jajaran direksi perusahaan rokok
misalnya karena sakit jantung dan pembuluh darah, kanker, tertentu. Tetapi anehnya walaupun mengatakan bahaya, mereka
penyakit paru obstruktif kronik dan penyakit kronik lainnya atau masih tetap saja memproduksinya dan pada saat ditanya
karena hal lain yang menjadikan mereka berhenti merokok. mengapa tetap memproduksinya, dengan sangat diplomatis
Memang sungguh miris kalau dinalar secara mendalam. mereka katakan “biarlah kami memproduksi rokok selama
Betapa tidak, negara yang dianggap sebagian orang lebih sekuler masyarakat masih membutuhkan dan biarlah kami mati secara
seperti Amerika Serikat, Kuba, Meksiko, Selandia Baru dan alami selagi masyarakat sudah tidak membutuhkan”. Sungguh
banyak lagi lainnya, mau melindungi kesehatan masyarakatnya penyataan yang sangat luar biasa dan sepertinya hanya kiamat
dan dengan tegas meratifikasi kesepakatan global dalam bentuk yang dapat menghentikannya. Wallohu’alam bish-shawab.
FCTC (Framework Conventions on Tobacco Control).
INFOKES EDISI 37, DESEMBER 2017

