Page 57 - Profil Kesehatan 2015
P. 57







Tingginya angka kesakitan DBD disebabkan karena adanya iklim tidak
stabil dan curah hujan cukup banyak pada musim penghujan yang merupakan

sarana perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegipty yang cukup potensial. Selain
itu juga didukung dengan tidak maksimalnya kegitan PSN di masyarakat sehingga

menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit DBD di beberapa
kabupaten/kota. IR DBD menurut kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah tahun

2015 dapat dilihat pada gambar 3.31.

Gambar 3.31
Incidence Rate DBD Menurut Kabupaten/Kota
di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015

180,00
158,14
160,00
140,00 123,96

120,00
100,00 83,83 90,78 99,46
80,00 58,16 59,16 61,02 62,37 63,73 66,27 67,63 70,45 72,89

60,00 44,41 45,22 46,39 48,56 50,55 47,90
40,00 22,94 25,19 25,57 27,93 28,61 30,83 34,71 34,91
15,34 16,19 17,22 17,62 21,40
20,00 3,60 6,32 9,44
0,00




Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2015

Berdasarkan gambar 3.31, kabupaten/kota dengan Incidence Rate
Tertinggi adalah Kota Magelang 158,14 per 100.000 penduduk, diikuti Jepara

123,96 per 100.000 penduduk, dan Kota Semarang 99,46 per 100.000 penduduk.
Kabupaten/kota dengan Incidence Rate terrendah adalah Wonosobo 3,60 per

100.000 penduduk, diikuti Wonogiri 6,32 per 100.000 penduduk, dan Kota
Pekalongan 9,44 per 100.000 penduduk.


21. Angka Kematian Demam Berdarah Dengue (DBD)
Angka kematian/Case Fatality Rate (CFR) DBD di Jawa Tengah tahun
2015 sebesar 1,6 persen, sedikit menurun bila dibandingkan CFR tahun 2014

yaitu 1,7 persen. Angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan dengan target

nasional maupun RPJMD (<1%). CFR DBD selama lima tahun terakhir dapat
dilihat pada gambar 3.32.




Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015 40
   52   53   54   55   56   57   58   59   60   61   62