Tak Berkategori

Halal Bihalal Pegawai Dinas Kesehatan Provinsi Jateng

www.dinkes.jatengprov.go.id–Pagi ini Senin, 10 Juni 2019 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah melaksanakan apel pagi pertama setelah libur panjang dan cuti Hari Raya Idul Fitri 1440H.  Apel dipimpin oleh Bapak Kadinkes dilanjutkan dengan Halal Bihalal saling berjabat tangan seluruh pegawai Dinas Kesehatan Prov. Jateng bersama keluarga Pensiunan, Kanwil Depkes Jateng, dan Dharma Wanita Dinas Kesehatan Prov. Jateng.

Dengan segenap hati kami keluarga besar Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah mengucapkan Minal Aidzin Wal faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin

Dinas Kesehatan Siap Membantu Kelancaran Mudik Lebaran 2019

www.dinkes.jatengprov.go.id–Selasa, 28 Mei 2019. Hari ini, diadakan Apel Siaga Penyelenggaraan Posko Terpadu Lebaran 2019 di halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah. Apel dihadiri oleh beberapa elemen yang berpartisipasi dalam mengamankan dan melancarkan jalannya mudik lebaran 2019.

Dinas Kesehatan Provisi Jawa Tengah juga sudah siap untuk membantu melancarkan jalannya mudik lebaran 2019 dengan menyediakan layanan kesehatan di posko-posko kesehatan. Selain itu untuk mobilitas, kami juga menerjunkan ambulance baik mobil maupun motor. Dengan adanya apel ini, kami jadi lebih siap!

(humas dinkesjatengprov, 28/5)

Kesiapan Jawa Tengah dalam Implementasi Program Rumah Sakit Tanpa Dinding

www.dinkesjatengprov.go.id–Senin, 27 Mei 2019,  Hari ini di Bappeda Provinsi Jawa Tengah diadakan Kajian Strategis “Implementasi Program Rumah Sakit Tanpa Dinding di Jawa Tengah”. Pesertanya dari Dinas Kesehatan kabupaten kota se Jateng, rumah sakit provinsi, Dinkes Prov Jateng dan Balkesmas UPT Dinkes Prov dan lintas sektor. Turut hadir pula perwakilan dari Dirjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes RI.

Pada kesempatan kali ini, Bapak Kadinkes menjadi narasumber untuk memaparkan tentang program pelayanan kesehatan yang saat ini sedang berjalan di Jawa Tengah dan kesiapan Jawa Tengah dalam implementasi program rumah sakit tanpa dinding.

Rumah Sakit Tanpa Dinding itu bukan arti yang sebenarnya ya, tapi cuma kiasan. Maksudnya, pelayanan rumah sakit harus tidak ada sekat dan melakukan pelayanan kesehatan yang bersifat promotif preventif yaitu mencegah jangan sampai masyarakat sakit. Banyak tenaga ahli di rumah sakit, jadi sayang jika hanya melakukan pengobatan saja.

(humas dinkesjatengprov, 27/5)

Gerakan Deteksi Dini Faktor Resiko Penyakit Tidak Menular di Tingkat Kecamatan

www.dinkesjatengprov.go.id–Senin, 27 Mei 2019, Kegiatan pertemuan Seksi PTM dan Keswa (Kesehatan Jiwa) Dinkes Provinsi Jateng pada 27/5 bertempat di Kecamatan Grabag Kabupaten Pemalang dengan tema “Sosialisasi Gerakan Deteksi Dini Faktor Resiko Penyakit Tidak Menular di Tingkat Kecamatan”.

Penyakit Tidak Menular (PTM) adalah penyebab kematian terbanyak di Indonesia. Keadaan dimana penyakit menular masih merupakan masalah kesehatan penting dan dalam waktu bersamaan morbiditas dan mortalitas PTM makin meningkat merupakan beban ganda dalam pelayanan kesehatan, tantangan yang harus dihadapi dalam pembangunan bidang kesehatan di Indonesia. peningkatan PTM berdampak negatif pada ekonomi dan produktivitas bangsa.Selain itu, salah satu dampak PTM adalah terjadinya kecacatan termasuk kecacatan permanen. 

Salah satu cara mencegah dan mengendalikan PTM adalah dengan melakukan deteksi dini faktor resiko PTM. Dengan mendeteksi sedini mungkin faktor resiko PTM, maka kecenderungan seseorang untuk mengalami PTM akan dapat dicegah dan perilaku yang beresiko terhadap PTM juga dapat dikendalikan.
Seperti halnya di Kabupaten Pemalang, acara sosialisasi gerakan Deteksi Dini Faktor Resiko PTM ini juga dilaksanakan di seluruh kabupaten/kota lainnya di Jawa Tengah. Meskipun terselenggara di bulan Ramadhan, tidak mengurangi antusias peserta maupun penyelenggara demi terwujudnya masyarakat Indonesia bebas Penyakit Tidak Menular.

(humas dinkesjatengprov, 27/5)


Pemantauan Lapangan Menghadapi Lebaran 2019

www.dinkesjatengprov.go.id–Kamis, 23 Mei 2019, Dinkes Provinsi Jateng bersama Dishub Jateng dan OPD lainnya melaksanakan pemantauan lapangan dalam rangka kesiapan Jawa Tengah menghadapi lebaran tahun 2019.

Dinas Kesehatan Provinsi Jateng diwakili oleh Bapak Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Drs. Agus Tri Cahyono,Apt,M.Si mengunjungi RSUD Tugurejo, dalam hal kesiapan RSUD Tugurejo dalam penyiapan Rawat Inap secara online.

Adapun upaya – upaya  di bidang kesehatan, antara lain :
√ PENINGKATAN kesiapsiagaan dengan operasionalisasi posko terpadu, posko pelayanan kesehatan 24 jam di jalur pantur, tengah, dan selatan. Serta operasionalisasi Pusat Pelayanan Keselamatan TERPADU/PSC 119

√ menyiapkan faskes di sepanjang jalur mudik BUKA 24 jam
√ pemeriksaan kesehatan sopir
√ pelayanan kesehatan masyarakat
√ pembentukan tim pemantauan

(humas dinkesjatengprov, 23/5)

Inovatif Dalam Percepatan Implementasi Program Kesehatan Kerja Dan Olah Raga

www.dinkesjatengprov.go.id–Kamis, 16 Mei 2019…Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah kembali Mendapatkan Penghargaan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Penghargaan berupa PROVINSI PALING INOVATIF dalam PERCEPATAN IMPLEMENTASI PROGRAM KESEHATAN KERJA DAN OLAH RAGA.

Semoga dengan Penghargaan ini, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tetap menjadi Instansi Pemerintahan yang terus inovatif dalam mengembangkan program dan kegiatan, serta mengupayakan hal-hal terbaik terutama dalam bidang kesehatan.

Jateng Tetep sehat,
Jateng Tetep keren,
Jateng pancen OYE!!!

(humas dinkesjatengprov 16/5)

Bebas Malaria Prestasi Bangsa

www.dinkesjatengprov.go.id–Bali, Kementrian Kesehatan RI mengadakan Peringatan Hari Malaria Sedunia pada 13/5 yang digelar di Bali. Dihadiri Menteri Kesehatan bersama Menteri Dalam Negeri, Bupati dan Gubernur se Jawa Bali.  Diantaranya hadir pula Gubernur DKI Jakarta Bapak Anies Baswedan, Gubernur Jawa Barat Bapak Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Tengah Bapak Ganjar Pranowo, Wakil Gubernur Jawa Timur Bapak Emil Dardak serta Wakil Gubernur DIY KGPAA Bapak Paku Alam X.

Mengapa Bali? Ya, Bali saat ini telah mencapai eliminasi malaria dan masih terus menjalankan upaya pemeliharaan dari eliminasi malaria.  Tema yang diangkat pada peringatan hari ini adalah Bebas Malaria Prestasi Bangsa dengan target Indonesia Bebas Malaria 2030. Saat ini Indonesia masih punya PR yang harus dituntaskan karena masih ada lima provinsi yang belum mencapai eliminasi malaria yaitu, Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, dan NTT. Itu akan menjadi pekerjaan untuk kita semua dalam mendukung provinsi lain untuk bisa mencapai tingkat eliminasi malaria secara merata.

Pada kesempatan itu, Gubernur se-Jawa-Bali melakukan penandatanganan komitmen eliminasi malaria tingkat regional Jawa-Bali. Selanjutnya diikuti pemberian sertifikat eliminasi malaria kepada 11 bupati yang tahun ini berhasil mencapai status bebas malaria..

Salut untuk kinerja pemerintah kita yang selalu mengupayakan terbaik bagi bangsa. Sesuai pesan Bapak Gubernur meskipun target Jateng eliminasi th 2022 tapi tahun ini harus sudah beres. Yuk kita dukung agar Indonesia bebas Malaria 2030!! (humas dinkesjatengprov)

Upaya eliminasi malaria melalui advokasi dengan Bupati Banjarnegara

www.dinkesjatengprov.go.id–Banjarnegara, Jumat, 10 Mei 2019 diselenggarakan acara Advokasi Malaria dengan Bupati Kabupaten Banjarnegara dan teman-teman WHO. Dalam kesempatan ini, Kadinkes Provinsi Jawa Tengah turut hadir bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo, Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan  Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Yogyakarta, Dinas Kesehatan Kabupaten Banjarnegara, Kepala Balai Kesehatan Masyarakat (Balkesma)) Ambarawa dan beberapa team kesehatan dari OPD.  Dalam pertemuan dengan Bupati Banjarnegara membahas upaya eliminasi malaria tahun 2022.

(humas dinkesjatengprov 10/5)

Rekruitmen Project Officer

PENGUMUMAN

Dibutuhkan Seorang Project Officer dalam rangka Memorandum Saling Pengertian (MSP) antara Kementerian Kesehatan dan Netherland Leprosy Relief  (NLR) mengenai Program Pengendalian Kusta Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.  Persyaratan dan ketentuan selengkapnya, dapat didownload disini.

 

 

5 R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin), Antara Slogan Dan Pelaksanaan…

oleh Enny Widiastuti, SKM.,M.Kes (Adminkes Madya, Dinas Kesehatan Prov Jateng)

Sering kita melihat, mendengar bahkan mengalami kejadian yang mengakibatkan celaka di sekitar kehidupan kita….misalnya kejadian di kantor, ada yang terpeleset, tersandung, tersengat listrik atau kejadian yang lebih serius lagi…mengapa hal ini bisa terjadi?? Kelihatannya hanya sepele akan tetapi akan menjadi serius apabila  menjadi perhatian bagi semua…

Mengapa kejadian tersebut sepele?? Karena kita semua tidak peduli, tidak menganggap penting atau tidak mencatat kejadian tersebut….. apalagi menganalisisnya… wooow…Seharusnya semua kejadian itu dapat dicegah…dengan 5 R atau 5 S…

5 R seringkali kita lihat di berbagai tempat pelayanan maupun di perkantoran. Baik berupa banner, logo ataupun poster. Lalu…bagaimana implemtasinya??

5 R merupakan kegiatan yang sangat sederhana dapat dilakukan oleh semua orang dan aplikatif, akan tetapi luar biasa hasilnya apabila dilaksanakan dengan baik. Sehingga 5 R tidak hanya sebagai slogan saja akan tetapi dapat diimplementaskan. Mari kita bahas lebih lanjut secara singkat……

Apakah itu 5S/5R ??

5 R atau 5 S adalah suatu metode penataan dan pemeliharaan wilayah kerja secara intensif yang bersal dari jepang yag digunakan oleh manajemen dalam usaha memelihara ketertiban, efisiensi, dan disiplin di lokasi kerja sekaligus meningkatkan kinerja perusahaan/tempat kerja secara menyeluruh.

5 S atau di Indonesia dikenal dengan 5 R merupakan singkatan yang isinya adalah  :

  1. SEIRI/Ringkas, merupakan kegiatan menyingkirkan barang-barang yang tidak diperlukan sehingga segala barang yang ada di lokasi kerja hanya barang yang benar-benar dibutuhkan dalam aktivitas kerja
  2. SEITON/Rapi, segala sesuatu harus diletakkan sesuai posisi yang ditetapkan sehingga siap digunakan pada saat diperlukan
  3. SEISO/Resik, merupakan kegiatan membersihkan peralatan dan daerah kerja sehingga segala peralatan kerja tetap terjaga dalam kondisi yang baik
  4. SEIKETSU/Rawat, merupakan kegiatan menjaga kebersihan pribadi sekaligus mematuhi tahap sebelumnya (3 S/ 3 R)
  5. SHITSUKE/Rajin, pemeliharaan kedisiplinan pribadi masing-masing pekerja dalam menjalankan seluruh tahapan 5S/ 5R

Penerapan 5S/ 5R harus dilaksanakan secara bertahap sesuai urutannya. Jika tahap pertama/Seiri/Ringkas tidak dilakukan dengan baik, maka tahap berikutnya tidak dapat dijalankan secara maksimal dst.

Dimana  5 R dapat diterapkan??

5 R dapat diterapkan di seluruh tempat kerja, bahkan di rumah kita sendiri karena pada hakekatnya semua orang senang dan nyaman bekerja di tempat yang besih, rapi, aman dan nyaman.  5 R merupakan teori yang sangat sederhana, mudah dimengerti oleh semua orang dan sangat mudah diterapkan. Lalu bagaimana cara menerapkan dengan baik ??

Mengapa 5 R penting ?

Sebenarnya filosofi melaksanakan 5 R adalah untuk mencapai tingkat efisiensi dan efektivitas yang sangat tinggi. Efisiensi sangat berhubungan dengan biaya (cost) sedangkan efektif sangat berhubungan dengan waktu. Apakah itu sulit ?? sebenarnya tidak..karena tidak membutuhkan biaya yang besar atau murah..selain itu kalau diterapkan dengan baik akan memberikan citra yang positif. Selain itu 5 R dilaksanakan bertujuan untuk menciptakan lingkungan kerja yang bersih, sehat, rapi, aman, nyaman dan menyenangkan yang akan membentuk personal yang disiplin,sikap kerja yang positif, budaya positif, peka dan kreatif. Yang selanjutnya akan membentuk budaya disiplin.

Bagaimana cara menerapkannya ?

Meskipun mudah dan murah akan tetapi kunci dari pelaksanaannya adalah komitmen dan kepedulian terhadap lingkungan kita..Komitmen tentu saja yang berhubungan dengan pimpinan sedangkan kepedulian sangat berhubungan erat dengan seluruh karyawan yang ada dilingkungan pekerjaan, dan terlibat aktif seluruhnya..sehingga butuh kebersamaan dari seluruh karyawan…

Implementasi 5 R dibutuhkan struktur, sistem dan sumber daya yang tersedia. Adapun tahapan-tahapan untuk melaksanakan 5 R, sebagai berikut :

  1. Persiapan;
  • Komitmen tertulis dari pimpinan;  Sebelum 5 R diterapkan di lingkungan kerja, yang terpenting pada awal adalah adanya komitmen yang kuat dari pimpinan tinggi. Karena tanpa komitmen tertulis akan sulit diterapkan.
  • Pembentukan struktur organisasi pelaksanaan 5 R. Yang melibatkan dari pejabat struktural dan karyawan. Struktur organisasi harus disusun lengkap dengan pembagian tugas dalam tim.
  • Sosialisasi 5 R kepada seluruh karyawan.  Agar seluruh karyawan mendukung kegiatan 5 R, dibutuhkan sosialisasi sebagai sarana pemberian informasi tentang 5R, misalnya tentang tujuan, struktur, dan  kegiatan-kegiatan 5R.

2. Penerapan;

  • Pelatihan bagi tim 5 R.  Pelatihan singkat diperlukan bagi tim 5R, agar memahami tugas, tujuan dan kegiatan-kegiatannya.
  • Promosi.  Promosi perlu dilakukan agar 5 R dapat diterima oleh seluruh karyawan bahkan sebagai media informasi bagi semua orang yang berkunjung ke tempat kerja, sehingga tempat kerja mendapatkan citra yang positif dari pengunjung. Promosi dibuat dengan berbagai media misalnya pembuatan leaflet, poster, banner, logo, slogan-slogan dll., selain itu juga dibuat lomba-lomba antar bagian/unit.
  • Operasional awal, dengan membandingkan sebelum dan sesudah kegiatan. Misalnya :
No Sebelum Sesudah
1

2

3

4

5

Ringsep

Ruwet

Rusuh

Rusak

Remuk

Ringkas / Seiri

Rapi / Seiton

Resik / Seiso

Rawat / Seiketsu

Rajin /Shitsuke

Pada saat penerapan, dibutuhkan pembinaan langsung dari anggota tim agar hasilnya maksimal. Pelaksanaan 5 R dari masing-masing bagian juga diperlukan kreatifitas dan seni agar hasilnya baik dan lebih menarik.

3. Evaluasi;

Setelah  R-1-2-3 (Ringkas, Rapi, Resik) diimplementasikan, maka dilaksanakan  R-4 (Rawat) dengan menyusun standar perawatan. Sebelum dilakukan evaluasi, perlu dilaksanakan dahulu pembinaan secara berkala, misalnya setiap bulan sekali atau tiga bulan sekali. Pada saat awal pelaksanaan diperlukan pembinaan yang lebih sering agar seluruh karyawan memahami setiap tahapan dalam 5 R. Untuk pelaksanaan pembinaan diperlukan instrumen pembinaan demikian pula untuk evaluasi dibutuhkan pula instrumen evaluasi, sehingga diperlukan penetapan indikator keberhasilan. Indikator keberhasilan 5 R pada suatu bagian harus diintegrasikan dengan indikator kegiatan yang lain .

4. Pembudayaan;

Rajin/Shitsuke (R ke 5) akan terwujud apabila 5 R sudah menjadi budaya. Untuk mewujudkan 5 R menjadi budaya dibutuhkan tahapan-tahapan antara lain, setelah 5 R dilaksanakan secara bertahap, akan menjadi kebiasaan melaksanakan 5 R, selanjutnya dilakukan evaluasi bekelanjutan sehingga menunjukkan bahwa 5 R sudah menjadi budaya kerja di tempat kerja.

KESIMPULAN :

  1. 5 R penting diimplementasikan karena akan menciptakan lingkungan kerja yang bersih, rapi, sehat, aman dan nyaman yang pada akhirnya menciptakan kedisiplinan, kepuasan kerja dan membetuk citra positif.
  2. 5 R/5 S mudah diimplementasikan, akan tetapi dibutuhkan komitmen untuk implementasinya
  3. 5 R dapat meneingkatkan efisiensi dan produktifitas kerja.