Tak Berkategori

5 R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin), Antara Slogan Dan Pelaksanaan…

oleh Enny Widiastuti, SKM.,M.Kes (Adminkes Madya, Dinas Kesehatan Prov Jateng)

Sering kita melihat, mendengar bahkan mengalami kejadian yang mengakibatkan celaka di sekitar kehidupan kita….misalnya kejadian di kantor, ada yang terpeleset, tersandung, tersengat listrik atau kejadian yang lebih serius lagi…mengapa hal ini bisa terjadi?? Kelihatannya hanya sepele akan tetapi akan menjadi serius apabila  menjadi perhatian bagi semua…

Mengapa kejadian tersebut sepele?? Karena kita semua tidak peduli, tidak menganggap penting atau tidak mencatat kejadian tersebut….. apalagi menganalisisnya… wooow…Seharusnya semua kejadian itu dapat dicegah…dengan 5 R atau 5 S…

5 R seringkali kita lihat di berbagai tempat pelayanan maupun di perkantoran. Baik berupa banner, logo ataupun poster. Lalu…bagaimana implemtasinya??

5 R merupakan kegiatan yang sangat sederhana dapat dilakukan oleh semua orang dan aplikatif, akan tetapi luar biasa hasilnya apabila dilaksanakan dengan baik. Sehingga 5 R tidak hanya sebagai slogan saja akan tetapi dapat diimplementaskan. Mari kita bahas lebih lanjut secara singkat……

Apakah itu 5S/5R ??

5 R atau 5 S adalah suatu metode penataan dan pemeliharaan wilayah kerja secara intensif yang bersal dari jepang yag digunakan oleh manajemen dalam usaha memelihara ketertiban, efisiensi, dan disiplin di lokasi kerja sekaligus meningkatkan kinerja perusahaan/tempat kerja secara menyeluruh.

5 S atau di Indonesia dikenal dengan 5 R merupakan singkatan yang isinya adalah  :

  1. SEIRI/Ringkas, merupakan kegiatan menyingkirkan barang-barang yang tidak diperlukan sehingga segala barang yang ada di lokasi kerja hanya barang yang benar-benar dibutuhkan dalam aktivitas kerja
  2. SEITON/Rapi, segala sesuatu harus diletakkan sesuai posisi yang ditetapkan sehingga siap digunakan pada saat diperlukan
  3. SEISO/Resik, merupakan kegiatan membersihkan peralatan dan daerah kerja sehingga segala peralatan kerja tetap terjaga dalam kondisi yang baik
  4. SEIKETSU/Rawat, merupakan kegiatan menjaga kebersihan pribadi sekaligus mematuhi tahap sebelumnya (3 S/ 3 R)
  5. SHITSUKE/Rajin, pemeliharaan kedisiplinan pribadi masing-masing pekerja dalam menjalankan seluruh tahapan 5S/ 5R

Penerapan 5S/ 5R harus dilaksanakan secara bertahap sesuai urutannya. Jika tahap pertama/Seiri/Ringkas tidak dilakukan dengan baik, maka tahap berikutnya tidak dapat dijalankan secara maksimal dst.

Dimana  5 R dapat diterapkan??

5 R dapat diterapkan di seluruh tempat kerja, bahkan di rumah kita sendiri karena pada hakekatnya semua orang senang dan nyaman bekerja di tempat yang besih, rapi, aman dan nyaman.  5 R merupakan teori yang sangat sederhana, mudah dimengerti oleh semua orang dan sangat mudah diterapkan. Lalu bagaimana cara menerapkan dengan baik ??

Mengapa 5 R penting ?

Sebenarnya filosofi melaksanakan 5 R adalah untuk mencapai tingkat efisiensi dan efektivitas yang sangat tinggi. Efisiensi sangat berhubungan dengan biaya (cost) sedangkan efektif sangat berhubungan dengan waktu. Apakah itu sulit ?? sebenarnya tidak..karena tidak membutuhkan biaya yang besar atau murah..selain itu kalau diterapkan dengan baik akan memberikan citra yang positif. Selain itu 5 R dilaksanakan bertujuan untuk menciptakan lingkungan kerja yang bersih, sehat, rapi, aman, nyaman dan menyenangkan yang akan membentuk personal yang disiplin,sikap kerja yang positif, budaya positif, peka dan kreatif. Yang selanjutnya akan membentuk budaya disiplin.

Bagaimana cara menerapkannya ?

Meskipun mudah dan murah akan tetapi kunci dari pelaksanaannya adalah komitmen dan kepedulian terhadap lingkungan kita..Komitmen tentu saja yang berhubungan dengan pimpinan sedangkan kepedulian sangat berhubungan erat dengan seluruh karyawan yang ada dilingkungan pekerjaan, dan terlibat aktif seluruhnya..sehingga butuh kebersamaan dari seluruh karyawan…

Implementasi 5 R dibutuhkan struktur, sistem dan sumber daya yang tersedia. Adapun tahapan-tahapan untuk melaksanakan 5 R, sebagai berikut :

  1. Persiapan;
  • Komitmen tertulis dari pimpinan;  Sebelum 5 R diterapkan di lingkungan kerja, yang terpenting pada awal adalah adanya komitmen yang kuat dari pimpinan tinggi. Karena tanpa komitmen tertulis akan sulit diterapkan.
  • Pembentukan struktur organisasi pelaksanaan 5 R. Yang melibatkan dari pejabat struktural dan karyawan. Struktur organisasi harus disusun lengkap dengan pembagian tugas dalam tim.
  • Sosialisasi 5 R kepada seluruh karyawan.  Agar seluruh karyawan mendukung kegiatan 5 R, dibutuhkan sosialisasi sebagai sarana pemberian informasi tentang 5R, misalnya tentang tujuan, struktur, dan  kegiatan-kegiatan 5R.

2. Penerapan;

  • Pelatihan bagi tim 5 R.  Pelatihan singkat diperlukan bagi tim 5R, agar memahami tugas, tujuan dan kegiatan-kegiatannya.
  • Promosi.  Promosi perlu dilakukan agar 5 R dapat diterima oleh seluruh karyawan bahkan sebagai media informasi bagi semua orang yang berkunjung ke tempat kerja, sehingga tempat kerja mendapatkan citra yang positif dari pengunjung. Promosi dibuat dengan berbagai media misalnya pembuatan leaflet, poster, banner, logo, slogan-slogan dll., selain itu juga dibuat lomba-lomba antar bagian/unit.
  • Operasional awal, dengan membandingkan sebelum dan sesudah kegiatan. Misalnya :
No Sebelum Sesudah
1

2

3

4

5

Ringsep

Ruwet

Rusuh

Rusak

Remuk

Ringkas / Seiri

Rapi / Seiton

Resik / Seiso

Rawat / Seiketsu

Rajin /Shitsuke

Pada saat penerapan, dibutuhkan pembinaan langsung dari anggota tim agar hasilnya maksimal. Pelaksanaan 5 R dari masing-masing bagian juga diperlukan kreatifitas dan seni agar hasilnya baik dan lebih menarik.

3. Evaluasi;

Setelah  R-1-2-3 (Ringkas, Rapi, Resik) diimplementasikan, maka dilaksanakan  R-4 (Rawat) dengan menyusun standar perawatan. Sebelum dilakukan evaluasi, perlu dilaksanakan dahulu pembinaan secara berkala, misalnya setiap bulan sekali atau tiga bulan sekali. Pada saat awal pelaksanaan diperlukan pembinaan yang lebih sering agar seluruh karyawan memahami setiap tahapan dalam 5 R. Untuk pelaksanaan pembinaan diperlukan instrumen pembinaan demikian pula untuk evaluasi dibutuhkan pula instrumen evaluasi, sehingga diperlukan penetapan indikator keberhasilan. Indikator keberhasilan 5 R pada suatu bagian harus diintegrasikan dengan indikator kegiatan yang lain .

4. Pembudayaan;

Rajin/Shitsuke (R ke 5) akan terwujud apabila 5 R sudah menjadi budaya. Untuk mewujudkan 5 R menjadi budaya dibutuhkan tahapan-tahapan antara lain, setelah 5 R dilaksanakan secara bertahap, akan menjadi kebiasaan melaksanakan 5 R, selanjutnya dilakukan evaluasi bekelanjutan sehingga menunjukkan bahwa 5 R sudah menjadi budaya kerja di tempat kerja.

KESIMPULAN :

  1. 5 R penting diimplementasikan karena akan menciptakan lingkungan kerja yang bersih, rapi, sehat, aman dan nyaman yang pada akhirnya menciptakan kedisiplinan, kepuasan kerja dan membetuk citra positif.
  2. 5 R/5 S mudah diimplementasikan, akan tetapi dibutuhkan komitmen untuk implementasinya
  3. 5 R dapat meneingkatkan efisiensi dan produktifitas kerja.

Pembekalan Tenaga Kefarmasian dalam Melaksanakan Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas

www.dinkes.jatengprov.go.id–Tegal, Kegiatan yang dilaksanakan Seksi Farmasi, Makanan, Minuman, dan Perbekalan Kesehatan (Farmamin dan Perbekes) Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah hari ini, adalah Pertemuan Pembekalan Tenaga Kefarmasian dalam Melaksanakan Pelayanan Kefarmasian Sesuai Standar dan Penggunaan Obat Rasional di Puskesmas.  Acara di selenggarakan di Bahari Inn, Tegal.

Peserta pertemuan sejumlah 123 orang, berasal dari Pengelola Farmasi di Puskesmas dan Farmasi Dinkes Kota Tegal, Kabupaten Tegal, Kabupaten Brebes, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Pekalongan.

Tujuan dari kegiatan ini adalah pembekalan standar pelayanan kefarmasian dan penggunaan obat rasional di puskesmas.

(humas dinkesjatengprov, 30/4)

Launching “Pelayanan Pengujian Alat Kesehatan/ Kalibrasi Alkes”

www.dinkes.jatengprov.go.id–Semarang, Salah satu UPT Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, yaitu Balai Laboratorium Kesehatan dan Pengujian Alat Kesehatan (Balabkes dan PAK) Provinsi Jawa Tengah, Senin 29 April 2019 melakukan Launching “PELAYANAN PENGUJIAN ALAT KESEHATAN/ KALIBRASI ALKES”.

Launching ditandai dengan penyerahan surat ijin operasional dari Kementerian Kesehatan RI kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dan diteruskan ke Kepala Balai Labkes dan PAK Prov. Jateng.  Selanjutnya dilakukan penandatangan peresmian pelayanan PAK oleh Bapak Kepala Dinas Kesehatan Prov Jateng.

Peserta pertemuan terdiri dari :
-Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah
-Puskesmas Se-Kota Semarang
-UPT Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah

Dengan diremikannya pelayanan PAK/ unit kalibrasi alkes di Jawa Tengah, memberi harapan nantinya semua Alat Kesehatan yg dimiliki oleh fasyankes baik Pemerintah maupun Swasta bisa rutin melakukan Kalibrasi Berkala di Balai Labkes dan PAK Prov Jateng.  (humas dinkesprov jateng 29/4).

Posyandu itu Asyik

www.dinkesjatengprov.go.id–Semarang,  Setiap tahunnya pada tanggal 29 April di peringati sebagai Hari Posyandu.  Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dari, oleh, untuk, dan bersama masyarakat, guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar.

Posyandu sebagai wadah pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan, yang dalam pengembangannya mendapatkan pembinaan secara teknis kesehatan dan pembinaan kelembagaan. Pasal 150 pada Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa, Posyandu merupakan salah satu bentuk Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKD) selain Rukun Tetangga, Rukun Warga, Karang Taruna, Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat.

Keberhasilan pengelolaan Posyandu memerlukan dukungan yang kuat dari berbagai pihak, baik dukungan moril, materil, maupun finansial. Selain itu diperlukan adanya kerjasama, tekanan dan pengabdian para pengelolanya termasuk kader.

Apabila kegiatan Posyandu terselenggara dengan baik akan memberikan kontribusi yang besar, dalam menurunkan angka kematian ibu, bayi, dan anak balita.  Posyandu itu Asyik (humas dinkesprovjateng 29/4)

Semangat Kartini, Wujudkan Kualitas Keluarga untuk Jawa Tengah Maju dan Berdikari

www. dinkes.jatengprov.go.id—Rembang, Kamis, 25 April 2019, telah berlangsung PERINGATAN HARI KARTINI KE 140.  Acara  berlangsung di Pendopo Museum RA Kartini, Rembang.

Kali ini dengan tema “Dengan Semangat Kartini Kita Wujudkan Kualitas Keluarga untuk Jawa Tengah Maju dan Berdikari”.

Bapak Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, dr.Yulianto Prabowo, M.Kes turut mendampingi ibu Atikoh Ganjar Pranowo dalam kunjungan pelayanan Tes IVA di Puskesmas Rembang I dan II, dan juga pelayanan KB di halaman Pendopo Rembang.

Terus Maju Kartini Indonesia…Tetap Sehat..agar Kartini Jawa Tengah menjadi Maju dan Berkualitas.(humas dinkesjateng, 25/4)

Rapat Koordinasi Desa Binaan Dinkes Prov. Jateng di Grobogan

Rapat Koordinasi Desa Binaan Dinkes Prov. Jateng yang berlokasi di salah satu desa di Kabupaten Grobogan hari ini 25/4 dihadiri OPD lingkungan Prov Jateng. Turut hadir juga Kepala Bapeda Kab. Grobogan selaku narasumber dslam pertemuan rapat, yang serta perangkat desa kecamatan Grobogan.

Desa binaan yang merupakan program pembangunan masyarakat diharapkan dapat menjadi pilihan strategis dalam upaya pengembangan baik sumber daya manusia, produktifitas, kreatifitas yang berdampak positif terhadap kepentingan pembangunan nasional. (humas dinkesjateng, 25/4)

Pekan Imunisasi Dunia 2019, Tingkatkan Cakupan dan Mutu Imunisasi Lengkap

www.dinkesjatengprov.go.id–Jakarta, 15 April 2019–Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI gencar lakukan imunisasi rutin lengkap mengingat masih ada anak Indonesia yang imunisasinya belum lengkap. Hal tersebut dikarenakan masih adanya orang tua yang kurang memahami manfaat dan pentingnya imunisasi serta adanya rumor isu negatif tentang vaksin.

Menurut WHO sekitar 1,5 juta anak mengalami kematian tiap tahunnya karena penyakit yang  dapat dicegah dengan imunisasi. Pada 2018, terdapat kurang lebih 20 juta anak tidak mendapatkan imunisasi lengkap dan bahkan ada anak yang tidak mendapatkan imunisasi sama sekali.

Indonesia termasuk salah satu negara dengan jumlah anak yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap cukup banyak. Situasi ini telah berdampak pada munculnya Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) seperti difteri, campak, dan polio.

Tantangan yang ditemukan salahsatunya masih kurangnya pemahaman tentang manfaat imunisasi dan kerugian ekonomi akibat kecacatan atau kematian yang timbul apabila anak yang berada di lingkungan sekitar tidak mendapatkan imunisasi lengkap.

Kemenkes terus berupaya menyelesaikan tantangan-tantangan tersebut. Beberapa langkah untuk meningkatkan cakupan imunisasi adalah dengan meluruskan informasi yang tidak benar tentang imunisasi, memobilisasi semua sumber daya yang ada untuk mensosialisasikan manfaat imunisasi, memastikan pelayanan imunisasi mudah dijangkau oleh seluruh masyarakat, dan meningkatkan pelayanan imunisasi yang bermutu dengan cakupan tinggi dan merata.

Peran lintas program dan lintas sektor sangat dibutuhkan untuk meberikan pemahaman kepada semua pihak bahwa imunisasi sangat penting untuk meningkatkan kesehatan, dan menghambat KLB.

Selanjutnya untuk memastikan perlindungan terhadap generasi bangsa, hingga tahun 2018 Pemerintah telah memberikan imunisasi lengkap sebanyak 3.99 juta (92,04%), 70.000.000 anak < 15 Tahun Terlindungi dari Polio, 35.3 juta anak di Pulau Jawa dan 23,4 juta anak di luar Pulau Jawa terlindungi dari Rubella dan Campak.

Berkaitan dengan hal itu, Kemenkes akan melaksanakan peringatan Pekan Imunisasi Dunia (PID) yang jatuh setiap minggu ke-4 bulan April. Tema tahun ini “Imunisasi Lengkap Indonesia Sehat”. Tujuan PID kali ini untuk menunjukkan nilai penting dan manfaat imunisasi untuk kesehatan anak-anak dan masyarakat dunia, mengatasi kesenjangan cakupan imunisasi melalui peningkatan investasi program, dan menyampaikan bahwa imunisasi rutin lengkap merupakan dasar untuk kesehatan yang kuat.

Pekan Imunisasi Dunia ini diprakarsai pada World Health Assembly pada Mei 2012. Sampai saat ini PID telah dilaksanakan oleh lebih dari 180 negara melalui pelaksanaan berbagai kegiatan.

PID tahun ini semua sektor (LSM, perguruan tinggi dan organisasi  profesi, tokoh agama dan tokoh masyarakat, jurnalis/media, masyarakat, dan dunia usaha) harus menggerakkan semua sumber daya yang ada dan kreativitas masyarakat, sehingga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang arti penting dan manfaat imunisasi rutin lengkap.

Advokasi kepada tokoh agama dan tokoh masyarakat di antaranya dapat dilakukan dengan seminar yang membahas tentang pentingnya imunisasi dalam mencegah KLB, kecatatan, dan kematian akibat PD3I.

Untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya imunisasi rutin lengkap di tatanan penentu kebijakan serta masyarakat, maka kegiatan advokasi dapat dilakukan dengan mobilisasi massa. Hal itu dapat dilakukan melalui pemanfaatan acara senam sehat di fasilitas umum, lapangan, halaman kantor .

Peringatan PID ini dilakukan di seluruh daerah pada akhir pekan bulan April 2019. Kemenkes mengajak organisasi masyarakat dan dunia usaha untuk turut serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya imunisasi.

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak@kemkes.go.id.

Sumber : Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat (drg. Widyawati, MKM)

Angka Kematian Ibu di Kabupaten Brebes Mampu Diturunkan 40%

www.dinkes.jatengprov.go.id, Brebes — Demikian disampaikan Gubernur Jateng pada hari Senin,15 April 2019 di Pendopo Kabupaten Brebes, pada agenda Road Show Gubernur Jateng dalam pemberian bantuan sosial.

Salah satu acara dalam kegiatan tersebut adalah penyerahan Bantuan Jamban kepada masyarakat.  Diharapkan bantuan jamban ini adalah merubah perilaku kesehatan pada masyarakat, untuk Buang Air Besar (BAB) tidak lagi di sungai namun di jamban,

Selain itu menjadi ajang sosialisasi  Gubernur Jateng di bidang kesehatan adalah dengan program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng (5Ng). Alhamdulillah…….Angka Kematian Ibu melahirkan di Kabupaten Brebes mampu diturunkan 40%.– humas dinkesprov jateng –

Kebutuhan Akan Data dan Informasi Kesehatan Yang Evidence Based Sangat Besar

www.dinkes.jatengprov.go.id, Semarang — “Indikator Program Sumber Daya Kesehatan  yakni Persentase ketersediaan data dan informasi kesehatan untuk mendukung pengambilan keputusan dan indikator kegiatan Manajemen Informasi Kesehatan adalah Persentase sistem informasi kesehatan kabupaten/kota yang terintegrasi melalui Pemutakhiran Data tingkat Provinsi Jawa Tengah, menjadi kegiatan yang penting dalam mendukung ketercapaian indikator tersebut”.  Demikian disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah (dr. Yulianto Prabowo, M.Kes) dalam Pertemuan Pemutakhiran Data Tingkat Provinsi di Hotel GrandEdge Semarang  yang dihadiri pengelola data kesehatan kabupaten/kota,  pengelola program Dinkes Provinsi Jateng, dan pengelola data UPT Dinkes Provinsi Jateng.

Ditegaskan pula bahwa kebutuhan akan data dan informasi kesehatan yang evidence based sangat besar, di kabupaten/kota/ puskesmas untuk operasionalisasi program, di provinsi untuk penentuan strategi program dan di pusat untuk menentukan kebijakan nasional.

Kebutuhan data dan informasi kesehatan dapat dipenuhi melalui data set prioritas, data dasar puskesmas & rumah sakit, capaian kinerja SPM, sistem informasi kesehatan dan profil kesehatan.

Akhir sambutannya, Yulianto menambahkan bahwa pemutakhiran data dengan output kegiatan Draft Final data kesehatan yang siap dianalisis dan dipublikasikan merupakan salah satu upaya konsolidasi dan updating data, guna meminimalisir kesalahan dalam pengelolaan data kesehatan. Yang selanjutnya perlu ditingkatkan kualitas data, melalui penilaian mandiri kualitas data rutin (PMKDR)—mik27/3

Capaian Hasil Riskesdas 2018 untuk Implementasi SPM di Kabupaten/ Kota di Jawa Tengah

www.dinkes.jatengprov.go.id, Semarang — Hal tersebut ditekankan dalam sambutan dan arahan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah pada Seminar Nasional “ Manfaat Hasil Riset Kesehatan Dasar 2018 Dalam Mendukung Perumusan Kebijakan Pembangunan Bidang Kesehatan di Jawa Tengah” di Hotel NJ Horison Jl, MT Haryono No.32, Semarang, 26 Maret 2019.

Seminar Nasional dengan narasumber dr. Irmansyah, Sp KJ (K) (Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI), dr. Elvieda Sariwati, M.Epid (Kabag PI Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI),  dan dr. Sayono, S.KM, M.Kes(Epid) Pengurus Daerah IAKMI Jawa Tengah, dihadiri dengan antusias oleh peserta, meliputi Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota se- Jawa Tengah; Pimpinan Pendidikan Tinggi Kesehatan di Jawa Tengah dan Pimpinan Organisasi Profesi di Jawa Tengah.

Pada momen tersebut, Yulianto Prabowo, memberikan arahan tentang Riset Kesehatan Dasar (Rikesdas) sebagai penelitian bidang kesehatan berbasis komunitas yang dapat menggambarkan data kesehatan tingkat nasional sampai dengan tingkat Kabupaten/ Kota. Pelaksanaan Riskesdas yang lazim dilakukan setiap 5 tahun sekali merupakan interval yang tepat untuk menilai perkembangan status kesehatan masyarakat, faktor risiko, dan perkembangan upaya pembangunan kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah menambahkan,  Riskesdas 2018 dilaksanakan bekerjasama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam hal metode dan kerangka sampel, dengan proses mengumpulkan data spesifik kesehatan. Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa Hasil Riskesdas 2007 dan 2013 telah dimanfaatkan dalam pengembangan rencana kebijakan pembangunan jangka menengah (RPJMN 2010-2014 dan RPJMN 2015-2019) oleh Bappenas, provinsi dan beberapa kabupaten/ kota menggunakan data Riskesdas untuk perencanaan, pemantauan, dan mengevaluasi program-program kesehatan berbasis bukti (evidence-based planning). Komposit beberapa indikator Riskesdas 2007 dan Riskesdas 2013 juga telah digunakan menyusun model Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) di Indonesia. Nilai IPKM menghasilkan gambaran peringkat Kabupaten/Kota dalam bidang kesehatan, sehingga dapat melihat disparitas pembangunan kesehatan yang terjadi di Indonesia.

Ditekankan pula bahwa terkait dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM), dibutuhkan capaian hasil Riskesdas 2018 per kabupeten/ kota untuk implementasi SPM di Kabupaten/ Kota di Jawa Tengah, dan hal ini sudah ditunggu-tunggu oleh teman-teman dari kabupaten/ kota.  Banyaknya informasi yang dapat dihasilkan melalui pelaksanaan Riskesdas dapat dimanfaatkan oleh banyak sektor terkait, maka perlu dipersiapkan mulai tahun 2017 supaya pelaksanaannya dapat dimulai pada awal tahun 2018.

Di akhir arahannya, Yulianto Prabowo menegaskan “ Pertimbangan manfaat yang cukup siknifikan dari hasil Riskesdas, maka Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah melaksanakan Diseminasi Hasil Penelitian Kesehatan terkait Hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun 2018 dalam bentuk Seminar Nasional”. (mik/26_3)