Jogo Tonggo, Upaya Efektif dalam Penanganan COVID-19 melalui Pemberdayaan Masyarakat

www. dinkes.jatengprov.go.id==Bila Bukan Tetangga Yang Menjaga, Lalu Siapa Lagi yang Menjaga? Dalam rangka penanganan COVID-19, Program Jogo Tonggo dirasa mampu dalam menggerakkan daya masyarakat, seperti mengerahkan kembali kelompok karang taruna dan mengaktifkan siskamling/ronda. Hal ini justru dirasa memupuk kembali rasa sosial dan tanggung jawab bersama sebagai anggota masyarakat, dan menggerakkan kembali gotong-royong sesama warga. Jogo Tonggo bukan dibentuk dari nol tapi menggunakan sumber daya manusia yang sudah ada dimana Potensi tersebut menjadi kekuatan yang harus dioptimalkan melawan COVID-19.

Program Jogo Tonggo mengacu pada Instruksi Gubernur Nomor 1 Tahun 2020 yang diterbitkan pada Tanggal 1 April 2020. Dimana dalam instruksi tersebut tercantum bahwa Satgas Jogo Tonggo adalah Satuan Tugas Menjaga Tetangga yang bertugas memastikan bahwa warga secara bergotong royong melawan penyebaran dan penularan COVID-19 di wilayahnya, sekaligus memastikan dukungan dari luar wilayahnya untuk melawan COVID-19 tepat sasaran dan tepat guna. Selain itu, dalam Pembentukan Satgas Jogo tonggo diharapkan mampu memperhatikan 4 hal, yaitu : kesehatan, ekonomi, sosial dan keamanan, serta hiburan. Dan untuk persiapan ke New Normal ini maka Provinsi Jawa Tengah telah menyiapkan anggaran bagi pelaksanaan Jogo Tonggo, dalam bentuk kebutuhan belanja barang kebutuhan, seperti masker, thermo gun, sprayer, APD Sipil untuk petugas penyemprot, sepatu boot, dan desinfektan yang didistribusikan ke seluruh desa/kelurahan di Provinsi Jawa Tengah.

Jogo Tonggo diharapkan mampu untuk memperkuat/mempersiapkan proses adaptasi warga ke New Normal, sebagai contoh dengan memberlakukan kebijakan pemakaian masker bagi warga di lingkungan RT/RW masing – masing, atau melakukan screening awal, cek suhu tubuh, menyediakan sarana – prasarana cuci tangan dengan sabun di titik tertentu, dimana semua bersumber daya masyarakat. Kemudian juga melaksanakan hal – hal lainnya secara sukarela seperti pencatatan warga yang terdampak COVID-19, warga yang sedang menjalani perawatan dan yang sudah sembuh, serta memastikan ketersediaan bahan pangan.

 Seperti yang telah dilakukan di beberapa kelurahan, seperti Kelurahan Jomblang, Kecamatan Candisari, Semarang dimana warga bergotong-royong mendirikan dapur umum memenuhi kebutuhan warga yang terdampak COVID-19. Di Desa Kendengsidialit Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara, Jogo Tonggo juga sudah mulai diterapkan, disana program lumbung pangan juga sudah dilaksanakan sebagai pendukung program, di bidang sosial keamanan selalu berjaga dan mengingatkan jika ada warga berkerumun, orang luar yang masuk juga didata satu persatu. Bahkan di Kelurahan Lamper Tengah, Kecamatan Semarang Selatan juga telah dilaksanakan kegiatan Berbagi Berkah dengan mengumpulkan bahan pangan yang dibagikan kepada ke sesame warga.

Jogo Tonggo tidak hanya dilaksanakan ketika pandemi COVID-19 berlangsung, tetapi juga dapat diimplementasikan setelah pandemi COVID-19 selesai atau tetap dapat dilaksanakan secara terus menerus sehingga tercapai suatu bentuk pola New Normal yang menjadi kebiasaan warga untuk lebih menjaga/peduli terhadap lingkungan sekitar. Selain itu, Jogo Tonggo ini juga menjadi bentuk pelaksanaan dalam mencegah terjadinya gelombang pandemi berikutnya karena tetap dilaksanakan sesuai protokol kesehatan yang ada.

(Humas Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 11 Juni 2020)

 

Print

About dinkes

Leave a Reply

Your email address will not be published.