Inovasi dan Agility, Tantangan Transformasi Struktural

www.dinkes.jatengprov.go.id–Kemampuan kelincahan menjadi kebutuhan yang tak terelakkan dalam era digitalisasi yang begitu dinamis dan cepat dalam merespon perubahan tatanan, percepatan reformasi birokrasi, struktur, regulasi yang terintegrasi, penyederhanaan alur, sampai perampingan eselonisasi. Kelincahan strategis merupakan kapasitas untuk terus menyesuaikan dan arah strategis dalam bisnis inti untuk menciptakan nilai bagi organisasi, yang didefinisikan sebagai kelincahan organisasi, hampir serupa dengan fleksibilitas, yang diartikan sebagai kemampuan untuk tetap fleksibel dalam menghadapi perkembangan baru (Weber dan Tarba 2014).

Tim manajemen, tanpa kelincahan strategis, tidak akan dapat beradaptasi dengan lingkungan. Mungkin tidak bertahan dalam lanskap yang dinamis dan kompetitif. Karena itu, diperlukan kebijakan strategis dalam pengelolaan aset yang paling berharga, yakni transformasi sumber daya manusia beserta aset yang dimilikinya, baik tangible maupun in-tangible, manajemen pengetahuan, kemampuan manajemen, track-record, kedewasaan dan pengalaman, melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia untuk berkolaborasi pemerintah-pendidikan-masyarakat, lintas fungsi, lintas institusi secara tim mengawal percepatan gerbong perubahan guna terwujudnya kinerja organisasi yang berkelanjutan.

Kelincahan organisasi merupakan kemampuan organisasi untuk merespons secara cepat, bersamaan dan tepat waktu. Organisasi yang terintegrasi dengan mitra rantai pasokan, lintas sektoral, cenderung adaptif, fleksibel, responsif, dan lincah. Kelincahan merupakan kemampuan organisasi untuk memberikan nilai, kepuasan publik, sehingga dapat berkembang secara responsive, turut berperan serta dalam menghadapi era disruptive. Dalam organisasi, kemampuan agility dipertahankan melalui proses penginderaan, merespon, mengonfigurasi ulang, membingkai ulang, mengatur aset, yang berlangsung dalam tim dan individu (Teece, 2007).

Sedangkan sensing mengacu pada penginderaan peluang sebelum terjadi dan mengidentifikasi ancaman kompetitif (Helfat & Peteraf, 2015). Bentuk penginderaan dan cara merespon menjadi berubah karena teknologi menjadi peluang baru dalam mentransformasikan data menjadi informasi (George, Haas, & Pentland, 2014), dimana mengonfigurasi ulang dan mengatur aset adalah tentang menggabungkan, mengonfigurasi dan meningkatkan aset perusahaan pada berbagai tingkat organisasi (Helfat & Peteraf, 2015). Guna menekan kompleksitas dan ketidakpastian diperlukan kecepatan dan ketangkasan inovasi. Hal ini penting untuk mendorong munculnya inisiatif yang mendorong organisasi semakin lincah (Kasali R, 2018). Tidak terelakkan peran teknologi informasi dan digitalisasi memiliki peran sangat vital dalam percepatan inovasi organisasi, yang mendorong organisasi berkompetisi dan melakukan inovasi-inovasi baru. Disinilah diperlukan peran transformasi aparatur sipil yang memiliki kemampuan kelincahan dan kecepatan dalam melakukan penginderaan dan merespon terhadap perubahan. Kemampuan bertransformasi dan beradaptasi, tidak hanya bereaksi cepat terhadap perubahan, namun secara aktif menciptakan perubahan, dimana inovasi, kreativitas, dan pengambilan risiko dihargai. Proses adaptif dalam sistem sosio-ekologis yang kompleks dan peran inovasi sosial dalam adaptasi tersebut merupakan ikatan erat yang berbeda, yang dibawa oleh agen perubahan sosial melalui aktor sosial, ekonomi dan negara (Baker, S & Mehmood, A. 2015).

Untuk meningkatkan interaksi manusia-lingkungan yang berkelanjutan, diperlukan flexibilitas dan inovasi, salah satunya inovasi sosial, disini transformasi struktural dapat memainkan peran kunci dalam memicu peningkatan kinerja organisasi yang semakin berkinerja, mendorong smart society, dimana masyarakat menjadi lebih adaptif dan berdaya, menjadi bagian ekosistem pembelajaran yang efisien, dalam peningkatan pelayanan publik, kepuasan dan kemandirian masyarakat, yang berdasarkan pada hubungan kemitraan dan partisipasi, alturisme dan niat baik, yang didasarkan pada nilai persatuan untuk keadilan sosial dan kepentingan umat. Semoga. (*)

Penulis : Mufti Agung Wibowo, S.Kom, M.IT –Mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen Unissula dan Kasi Manajemen Informasi Dinas Kesehatan Provinsi Jateng. 

Dipublikasikan di Koran RadarSemarang Jawa Pos (Rabu, 11 Desember 2019 )

Print

About dinkes

Leave a Reply

Your email address will not be published.