Monthly Archives: November 2018

SEMINAR NASIONAL RISNAKES

www.dinkesjatengprov.go.id – Semarang (22/11/2018), Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah (dr. Yulianto Prabowo, M.Kes) yang diwakili oleh Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan (Rahma Nurchayati, SKM.M.Kes) telah membuka acara Seminar Nasional dengan tema “Manfaat Hasil Riset Ketenagaan Di Bidang Kesehatan (Risnakes) Dalam Mendukung Percepatan Universal Health Coverage  Terkait Availability, Accessibility, Acceptibility  Dan Quality  Sumber Daya Kesehatan”, yang dalam rangkaian kegiatan Hari Kesehatan Nasional ke 54 tahun 2018 diselenggarakan di hotel Metro Semarang. Sebagai narasumber kegiatan tersebut antara lain dari Badan Penelitian dan  Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI (DR.dr. Harimat Hendarwan, M.Kes),  Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Kesehatan Kementerian Kesehatan RI (dr. Nurrahmiati, MKM) dan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah (Rahma Nurchayati, SKM, M.Kes)

Diteruskan dalam sambutannya bahwa  penyedia layanan kesehatan merupakan inti dari sistem kesehatan nasional yang substansinya meliputi mengurangi dan menyembuhkan rasa sakit dan penderitaan, mencegah penyakit, dan mengurangi faktor risiko. Kualitas pelayanan kesehatan berkorelasi positif terhadap jumlah dan kualitas tenaga kesehatan. Secara kontekstual, tenaga kesehatan dihadapkan pada tantangan menghadapi pencapaian jaminan kesehatan, azas manfaat, peningkatan cakupan pelayanan, serta bagaimana Negara menghasilkan, mendistribusikan dan mempertahankan tenaga kesehatan yang mendukung Universal Health Coverage.

Disampaikan juga bahwa, permasalahan terkait tenaga kesehatan meliputi aspek ketersediaan (availability), keterjangkauan (accesibility), penerimaan (acceptability), dan mutu (quality). Ketersediaan tenaga kesehatan berarti bahwa terdapat kecukupan tenaga kesehatan dengan kompetensi relevan dan terjangkau dengan kebutuhan kesehatan masyarakat. Keterjangkauan dapat diartikan bahwa masyarakat dapat menjangkau tenaga kesehatan tersebut, baik terkait waktu tempuh dan transport, jam buka pelayanan, mekanisme rujukan, dan biaya pelayanan (direct dan indirect).

Aspek penerimaan (acceptability) meliputi karakteristik dan kemampuan tenaga kesehatan untuk memperlakukan setiap orang dengan penuh rasa hormat, serta mampu dipercaya. Dalam aspek mutu (quality) terkandung komponen kompetensi, kemampuan, pengetahuan, dan perilaku tenaga kesehatan sesuai norma profesional dan sesuai dengan yang diharapkan dari masyarakat. Permasalahan utama yang dihadapi dalam menilai aspek ketersediaan (availability) adalah ketersediaan data yang valid mengenai jumlah tenaga kesehatan yang ada. Dalam hal keterjangkauan (aksesibilitas), dijumpai pula lebarnya disparitas keberadaan tenaga kesehatan secara geografis.

Pada prinsipnya ketersediaan jumlah dan mutu tenaga kesehatan, harus berbanding lurus dengan tingkat keberhasilan penanggulangan penyakit dan kematian serta keberhasilan pengobatan pada institusi tersebut. Sebagai contoh jumlah dan kualitas tenaga epidemiolog, entomolog dan promosi kesehatan terhadap keberhasilan pencegahan dan pengendalian faktor risiko penyakit. Kemudian jumlah dan kualitas dokter OBSGYN sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pertolongan maternal.

Permasalahan global terkait kualitas dan kuantitas data tenaga kesehatan antara lain tidak diketahui secara pasti berapa jumlah tenaga kesehatan yang ada, sebaran, produksi, serta kapasitasnya. Kondisi ini berdampak pada sulitnya membuat satu kebijakan ketenagaan yang adekuat serta pengalokasian peran pada setiap jenjang administrasi Pemerintahan yang tepat. Kondisi ini juga akan berpengaruh pada optimalitas perencanaan, rekruitmen, distribusi, dan retensi ketenagaan.

Riset Ketenagaan di Bidang Kesehatan yang telah dilakukan pada tahun 2017 lalu dengan total coverage bertujuan untuk memperoleh data ketenagaan di bidang kesehatan pada fasilitas kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan (dinas kesehatan, rumah sakit umum dan khusus, baik pemerintah maupun swasta, dan Puskesmas). Hasil dari riset ini tentunya diharapkan mampu menjawab kebutuhan ketenagaan kesehatan tersebut dan dapat memberikan informasi yang memadai untuk kebijakan ketenagaan bidang kesehatan antara lain penajaman perencanaan, rekruitmen, dan distribusi ketenagaan kesehatan.

Pada akhir  sambuatan telah disampaikan ucapan terima kasih kepada Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Jawa Tengah, Ikatan Bidan Indonesia, dan Persatuan Perawat Nasional Indonesia Jawa Tengah, melakukan upaya penyebarluasan informasi terkait paduan antara hasil Riset Ketenagaan di Bidang Kesehatan dalam mendukung pembangunan kesehatan masyarakat melalui optimalisasi manajemen sumber daya manusia di bidang kesehatan, dalam kerjasama kegiatan tersebut.

(MIK/22/11/18)

Peringatan Hari Kesehatan ke 54 tahun 2018

www.dinkesjatengprov.go.id– Semarang, Peringatan Hari Kesenatan Nasional yang saat ini kita laksanakan, mengangkat Tema “Aku Cinta Sehat” dengan sub tema “Ayo Hidup Sehat, Mulai Dari Kita”. Tema tersebut sejalan dengan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) yang menekankan pada kesadaran tiap individu untuk meningkatkan berperilaku hidup sehat. Demikian sambutan Menteri Kesehatan RI yang telah dibacakan oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah (H. Taj Yasin) di Halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah saat upacara berlangsung dan di hadiri dari berbagai Instansi Pemerintah, Organisasi Profesi Kesehatan, dan Institusi Pendidikan Kesehatan.
Peringatan HKN ke-54 ini sebagai momentum yang baik untuk mengingatkan kita bahwa derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya akan terwujud, apabila semua komponen bangsa berperan serta dalam upaya kesehatan dengan memprioritaskan promotive-preventif tanpa mengabaikan kuratif dan rehabilitatif. Mengubah pola hidup kearah promotive – preventif dengan menekankan pada perilaku hidup sehat yang dimulai dari diri sendiri merupakan salah satu upaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya hidup sehat.
Meningkatkan kesadaran masyarakat berperilaku hidup sehat melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) telah diprakarsai oleh Presiden RI menjadi suatu Gerakan Nasional yang tertuang dalam Inpres No.1 tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat.
Dalam kesempatan Hari Kesehatan Nasional Ke-54 yang bertepatan dengan 4 (empat) Tahun Pemerintahan Jokowi -JK, kita patut bersyukur bahwa berbagai Program Kesehatan yang dilaksanakan telah berjalan dengan baik. Hal ini dapat kita refleksikan melalui hasil-hasil pembangunan kesehatan yang meliputi upaya mendekatkan akses pelayanan kesehatan dan peningkatan mutu layanan.
Dalam kaitan peran pemerintah untuk mendekatkan akses pelayanan kesehatan melalui perlindungan finansial telah dibayarkan iuran bagi penerima bantuan Iuran (PIB) yakni 87,8 juta jiwa pada tahun 2015 menjadi 92,3 juta jiwa. Fasilitas kesehatan tingkat pertama yang menerima layanan JKN dari 19.969 tahun 2015 menjadi 21.763 pada tahun 2017. Untuk fasilitas tingkat lanjutan juga mengalami peningkatan dari 1.847 faskes pada tahun 2015 menjadi 2.292 pada tahun 2017.
Pemenuhan Sumber Daya Manusia Kesehatan untuk memenuhi akses pelayanan kesehatan khususnya di daerah Daerah Terpencil, Perbatasan, dan Kepulauan (DTPK), hingga tahun 2017 Pemerintah telah menempatkan 6.316 tenaga kesehatan melalui Nusantara Sehat (NS), Wajib Kerja Dokter Spesdialis (WKDS) serta penugasan khusus calon dokter spesialis.
Pemerintah pada tahun 2017 untuk meningkatkan mutu layanan telah meningkatkan sarana dan prasarana pada fasilitas tingkat pertama sebanyak 375 rehabilitasi Puskesmas, 35 pembangunan Gedung, 750 pembangunan baru Puskesmas, 34 Unit Puskesmas keliling perairan, 537 Unit Puskesmas keliling roda empat, Penyediaan 1.650 Unit ambulans roda dua, 86 Unit ambulans roda empat, dan 2.525 peningkatan sarana dan prasarana Puskesmas, serta 10.437 penyediaan alat kesehatan di Puskesmas. Saat ini untuk fasilitas kesehatan tingkat rujukan telah terdapat 104 rumah sakit rujukan regional, 20 RS rujukan propinsi, 4 RS rujukan Nasional, dan 408 RSUD lainnya.

Untuk capaian program HIV/AIDS melalui upaya terobosan Temukan, Obati, Pertahankan pengobatan ARV (TOP) sampai 2017 telah diberikan ARV sebanyak 87.031 Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Dalam Upaya pengendalian TBC mel alui upaya Inovasi Temukan Obati Sampai Sembuh (TOSS) dengan menerapkan integrasi kegiatan Program Indonesia Sehat Pendekatan Keluarga (PIS-PK), diperoleh success rate minimal 85% sampai 2017 di 307 Kab/Kota, proporsi status gizi sangat pendek dan pendek pada Balita mengalami penurunan dari 37,2% pada tahun 2013, menjadi 30,8% di tahun 2018 (data RISKESDAS).
Selain keberhasilan diatas kita juga masih menghadapi tantangan permasalahan kesehatan yang masih terjadi di Indonesia diantaranya masih tingginya angka kematian ibu, tingginya angka kurang gizi, penyakit menular dan tidak menular. Ini harus segera diselesaikan jika kita ingin meningkatkan kualitas hidup saat ini dan masa yang akan datang. Terutama Puskesmas, ini perlu saya ingatkan pada para kepala dinas dan kepala puskesmas agar mengerahkan seluruh potensi yang dimiliki dalam rangka menyelesaikan permasalahan kesehatan di daerah masing-masing
Puskesmas dan tenaga kesehatan di dalamnya harus mengambil peran mencerdaskan masyarakat untuk hidup sehat dengan secara aktif dan terus menerus melakukan upaya promosi perilaku hidup bersih dan sehat. Saat ini alokasi anggaran untuk bidang kesehatan yang disiapkan oleh pemerintah cukup besar, sehingga besar juga harapan agar permasalahan kesehatan tersebut dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya.
Dalam kesempatan ini saya mengajak seluruh insan kesehatan baik dijajaran Kementerian Kesehatan maupun ditingkat daerah agar menjadikan Peringatan Hari Kesehatan Nasional ke-54 sebagai momentum untuk merefleksikan kembali sejauh mana keberhasilan pembangunan kesehatan yang telah dilaksanakan serta sejauh mana keberhasilan sektor kesehatan dalam melibatkan semua unsur. lintas sektor, dalam melaksanakan Pembangunan Kesehatan.
Peringatan Hari Kesehatan Nasional saat ini, mari kita kobarkan semangat melayani, semangat menggerakkan. semangat untuk mampu menangkap aspirasi masyarakat, semangat memandirikan dan memberdayakan masyarakat dalam pencapaian derajat kesehatan yang setinggi-tingginya yang dimulai dari diri kita masing-masing.
Hal tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa keberhasilan Program Kesehatan tidak terlepas dari peran masyarakat dan lintas sektor terkait. Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan mendorong terlaksananya Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS). Dengan GERMAS, kita mengajak kerja sama lintas sektor dan lintas program dalam mewujudkan masyarakat untuk berperilaku hidup sehat, yang pada akhirnya dapat membentuk bangsa Indonesia yang kuat.
Oleh karena itu saya ingin memberikan apresiasi kepada semua pihak yang telah mendukung terlaksananya Program kesehatan baik lintas program maupun lintas sektor, akademisi, kepala daerah, pelaku usaha, organisasi masyarakat dan lain-lain, sehingga dimasa yang akan datang pembangunan kesehatanakan terus mengalami kemajuan serta dapat menghasilkan Sumber Daya Manusia Indonesia yang sehat dan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain.

Mengakhiri sambutan ini, saya mengajak kita semua untuk mengikuti seluruh rangkaian peringatan Hari Kesehatan Nasional ini dengan penuh semangat dan suka cita. Selanjutnya saya mengajak kita semua untuk senantiasa mengena ng jasa para pejuang pembangunan kesehatan, meneladani semangat dan pengabdian mereka serta mendoakannya agar mendapatkan ampunan serta tempat yang layak disisi Tuhan Yang Maha Esa.
Akhir kata marilah kita memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa
— Allah Subhanahu Wataala agar berkenan memberikan bimbingan dan meridhoi seluruh niat baik dan upaya yang kita laksanakan, Aamin.

Selamat Hari Kesehatan Nasional,
“AKU CINTA SEHAT”
“AYO HIDUP SEHAT, MULAI DARI KITA”