• Print

Hari Pendengaran Sedunia

budegUnggah

DENGAN MENJAGA KESEHATAN PENDENGARAN KITA

INDONESIA MENDENGAR, MASA DEPAN GEMILANG

(oleh : Ningrum Sulistyorini, Seksi PKPM Dinkes Prov. Jateng)

Gangguan pendengaran adalah salah satu gangguan kesehatan yang umumnya disebabkan oleh factor usia atau karena sering terpapar suara yang nyaring/keras. Pendengaran bisa dikatakan terganggu jika sinyal suara gagal mencapai otak. Proses pendengaran terjadi ketika gendang telinga bergetar akibat gelombang suara yang masuk ke liang telinga. Getaran kemudian dilanjutkan ketelinga tengah melalui tiga tulang pendengaran yang dikenal dengan nama osikel (terdiri dari tulang malleus, incus, stapes). Osikel akan memperkuat getaran untuk dilanjutkan menuju rambut-rambut halus di dalam koklea, di mana koklea akhirnya mengirim sinyal melalui saraf pendengaran ke otak.
Dua penyebab utama dari gangguan pendengaran adalah faktor usia dan suara nyaring. Kebanyakan orang mulai sedikit terganggu pendengarannya ketika memasuki usia 40 tahun. Gangguan pendengaran akibat usia juga dikenal dengan nama presbikusis. Sedangkan paparan suara nyaring berkali-kali mampu merusak indera pendengaran. Suara nyaring seperti suara ledakan bisa membuat gangguan pendengaran muncul tiba-tiba, biasanya kondisi ini dikenal dengan istilah trauma akustik.
Menurut WHO, saat ini diperkirakan ada 360 juta (5.3%) orang di dunia mengalami gangguan cacat pendengaran, 328 juta (91%) diantaranya adalah orang dewasa (183 juta laki-laki, 145 juta perempuan) dan 32 juta (9%) adalah anak-anak. Prevalensi gangguan meningkat seiring dengan pertambahan usia. Prevalensi gangguan pendengaran pada orang di atas usia 65 tahun bervariasi antara18 sampai hampir 50% di seluruh dunia. Serta diperkirakan 20% orang dengan gangguan pendengaran membutuhkan alat bantu dengar. Namun produksi alat bantu pendengaran saat ini hanya memenuhi 10% dari kebutuhan global dan hanya memenuhi 3% dari kebutuhan di Negara berkembang.
Mengapa menjaga kesehatan pendengaran sangat penting karena menurut kajian, mendengar dapat menyerap 20% informasi, lebih besar disbanding membaca yang hanya menyerap 10% informasi. Mengingat pentingnya masalah ini, beberapa Negara di Asia Tenggara termasuk Indonesia, menyepakati tanggal 3 Maret sebagai peringatan Hari Kesehatan Telinga dan Pendengaran (HKTP). Tanggal tersebut dipilih karena bentuk angka 3 menggambarkan atau berkaitan dengan bentuk telinga. Oleh karena itu, Hari Kesehatan Telinga dan Pendengaran Sedunia diperingati setiap tanggal 3 Maret untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan kesehatan telinga dan pencegahan gangguan pendengaran.
Dengan meningkatnya permasalahan gangguan pendengaran dan ketulian di Indonesia, maka perlu diantisipasi dengan melakukan upaya promotif, preventif serta memberikan pelayanan kesehatan Indera Pendengaran yang optimal sebagai upaya kuratif dan rehabilitative terhadap masyarakat. Untuk itu diperlukan kerjasama dan kesamaan visi dari berbagai pihak yaitu dokter, perawat, tenaga kesehatan (asistena udiologi, audiometris), terapis wicara, pendidik, teknisi, serta masyarakat. Jadi mulai dari sekarang hargai system pendengaranmu dan orang-orang disekitarmu, karna masalah kecil di dalam pendengaranmu dapat berakibat fatal bagi hidupmu